Latest Entries »


Pacaran pada remaja ini sudah menjadi trend mark tersendiri. Seorang pacar bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan remaja. Menjomblo istilah yang mereka pakai bagi yang tidak punya pacar merupakan hal yang memalukan. Tajut dikira kurang jantan, kuper (kurang pergaulan), tidak laku, sok alim dan sebagainya, karena belum ada gandengan disampingnya. Sehingga sebagian remaja menjadi jomblo sebagai masalah terseniri. Keadaan yang demikian menjadikan mereka cepat-cepat mencari pacar, jika telah putus, maka akan cepat-cepat mencari penggatinya. Gonta ganti pacar seolah-olah hal yang keren dan reputasi tersendiri bagi remaja gaul.

Dalam berpacaran, pertemuan rutin bagi mereka adalah hal yang vital. Mereka bertemu untuk menampakkan segala hasrat dengan berbagai bumbu tersendiri(tertentu) seperti berpegangan tangan, saling andang berpandangan, ciuman dan berpelukan bahkan hingga hubungan seksual, maka hal seperti ini bukan ag disebut pacaran dalam arti asal, melainkan upaya penanaman mental free seks. Ini lebih jelas lebih terlarang.

Mengapa dikatakan upaya penanaman free seks ? Karena cara-cara seperti ini telah menjurus pelampiasan nafsu seks diluar nikah. Sedangkan pernikahan itu sendiri belum tentu terjadi dengan orang yang pernah mencintainya atau yang pernah memacarinya. Bahkan justru kebanyakan mereka yang berpacarandengan gaya seperti itu, ternyata tidak jadi nikah dan cintanya putus ditengah jalan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berkata : Nabi SAW bersabda : Allah SWT telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, diman dia akan melakukan zina mata, dalam bentuk pandangan, zina mulut dan perasaan.

Pacaran dengan gaya seperti itu bisa juga diartikan sebagai upaya pengikisan nilai cinta. Dua sejoli yang terlalu sering dan dalam setiap pertemuan terlalu sering dan terlalu lama berduaan, lambat laun rasa cintanya akan kendor. Jika tidak segera melansungkan pernikahan akan ada perasaan bosan sebagai cerminan rasa cintanya mulai kritis/tipis, berarti ia mulai tidak mencintai gadis itu. Dalam keadaan seperti itu dilansungkan pernikahan, maka biasanya pernikahannya tidak lama (bercerai) atau sekalipun langgen, namun selalu disertai berbagai cermin kebosanan kepada pasangannya.

Semakin lama pacaran akan semakin banyak masalah yang dihadapi, sebaliknya semakin cepat seorang menikah (tampa ada pacaran) maka akan selamatlah dia. Menyelesaikan berbagai perbedaan dalam pernikahan (rumah tangga) bernilai ibadah dan insya Allah mendapat penyelesaian yang saling menguntungkan dan terhormat.

Terlebih lagi islam sama sekali tidak mengenal pacaran. Islam hanya mengajarkan Khitbah dan setelah pernkahan. Khitbah adalah upaya memperkenalkan kurang jenis agar saling cocok disaksikan keluarganya atau muhrimnya. Dalam khitbah ini diperbolehkan melihat aurat pasangannya adalah terlarang (haram). Setelah khitbah dan keduanya ada kecocokan dalam arti siwanita menerima khitbah sipria. Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama diharuskan segera menikah.

Karena nafsu remaja cenderung sekali pada hal-hal yang berbau hura-hara seperti pacaran, jalan bareng, kumpul-kumpul dan sebagainya. Apabila mereka diajak kejalan yang benar, kadang diantara mereka ada yang memberontak. Apalagi salah satu hobby mereka adalah gonta ganti pacar.

Maka jika nafsu mereka untuk berdekatan dengan lawan jenis tak terbendung lagi, maka menikah adalah solusinya agar mereka terhindar dari dosa.

REMAJA

PACARAN ALA REMAJA

Di zaman sekarang pacaran itu dah lumrah…
bahkan seseorang yang usianya belum menginjak remaja…
Aduh pusing deh pokonya ngeliat mereka yang serba bebas…
bergaul sih g’ papa ya..asal jangan kelewat batas..
palagi pacaran ala anak muda sekang…
CIUMAN…PELUKAN…
Mugkin it da lumrah…aPakah sebenarnya yang merusak fikiran remaja-remaja sekarang????
itu hanya akan menjadi tanda tanya besar dan tak akan pernah berubah
semakin lama akan semakin merusak citra remaja sekarang….
pESANq buat kalian semua sesama remaja
jangan ikt terbawa arus dalam pergaulan.

KISAH ABUNAWAS

KISAH  ABUNAWAS

abunawas

Membasuh Tangan 120 Kali

Abu Nawas bekerja sebagai orang kepercayaan Raja Ali Ibnu Bakri. Abu Nawas dikenali sebagai orang cerdik dan ahli dongeng yang termasyhur. Suatu hari Raja mengalami ketegangan fikiran selepas bekerja sepanjang hari mengurus rakyat. Sang Raja memerintahkan kepada Abu Nawas bercerita mengenai kisah-kisah aneh dan ajaib, yang menjadi kegemaran sang Raja, untuk menghilangkan sedikit ketegangan jiwa yang dialaminya.

Kebiasaannya, Raja mendengar kisah-kisah Abu Nawas pada malam hari, iaitu sebelum sang raja menidurkan matanya. Abu Nawas menjawab, “Dengan senang hati, wahai raja yang baik dan bahagia…”

Dikisahkan, wahai Raja yang bahagia, salah seorang pelayan istana berkata kepada raja Cina:
Wahai Raja zaman ini, tuan rumah memerintahkan para pelayannya agar mengambil air dan semua yang diperlukan untuk membasuh tangan salah seorang tamunya yang dianggap agak ganjil dan aneh. Tamu itu lalu membasuh tangannya dengan air bercampur sabun, garam dan daun sebanyak seratus dua puluh kali basuhan.

Selepas itu barulah ia makan ‘ragut’(sejenis makanan yang berasal dari sebuah desa di Baghdad), tetapi pemuda itu memakannya seolah-olah dengan perasaan jijik dan mual, sementara kami memandangnya dengan penuh kehairanan, sebab tangannya dan malah sekujur tubuhnya menggigil.

Bila kami melihat tangannya, barulah kami mengetahui bahawa ibu jarinya terpotong, dia makan hanya dengan empat jari, sehingga menyebabkan makanan itu berjatuhan dari tangannya. Kami menyoalnya dengan hairan, “Apa yang terjadi dengan ibu jarimu? Apakah Tuhan menciptakanmu dalam keadaan seperti ini, atau apakah engkau pernah mengalami kemalangan?”

Pemuda itu menyahut, “Demi Tuhan, bukan hanya ibu jari ini saja yang hilang, tetapi juga ibu jari tanganku yang satu lagi, dan tumit kedua-dua kakiku, seperti yang akan kalian lihat.”

Lalu dia menunjukkan tangan kirinya dan kedua-dua kakinya. Kami melihat bahawa tangan kirinya nampak seperti tangan kanannya dan kedua-dua kakinya, tidak mempunyai tumit. Ketika kami melihatnya, kehairanan kami semakin bertambah, hingga kami berkata padanya, “Kami tak sabar menunggu kisahmu dan penyebab terpotongnya kedua ibu jari serta tumit kakimu dan mengapa engkau membasuh tanganmu seratus dua puluh kali.”

Pemuda itu berkata, “Ayahku adalah salah seorang pedagang yang paling terkemuka di Baghdad pada masa pemerintahan khalifah Harun Al-Rasyid. Tetapi ayahku gemar minum anggur dan bermain muzik kecapi, sehingga ketika dia meninggal ayahku tidak mewariskan sesuatu pun kepadaku.

Aku melaksanakan upacara pemakaman baginya, mengadakan pengajian Al-Quran, dan terus berkabung untuknya dalam masa yang cukup lama. Lalu aku membuka kedai peninggalan ayahku dan mendapati bahawa dia hanya meninggalkan sedikit harta dan banyak hutang. Maka aku terpaksa menjelaskan dan membayar kesemua hutang ayahku dengan membayarnya beransur-ansur.

Aku mula melakukan jual-beli dan membayar hutang ayahku minggu demi minggu, hingga akhirnya aku berjaya menjelaskan kesemua hutang ayahku dan modalku mula bertambah. Suatu hari, ketika aku sedang duduk di kedaiku, datanglah ke pasar seorang gadis muda yang cantik, yang kecantikannya belum pernah kulihat tandingannya, berpakaian mewah dan dihiasi permata.

Dia menaiki seekor keldai betina, dengan seorang hamba sahaya berkulit hitam berjalan di hadapannya dan seorang lagi di belakangnya. Gadis itu turun dari keldainya dan terus memasuki pasar. Baru saja dia melangkahkan kakinya ke pasar, seorang pengawal datang mengikutinya dan berkata, “Tuan puteri, masuklah, tapi jangan sampai ada orang yang mengenalimu, sebab kita akan menghadapi kesukaran.”

Lalu pengawal itu berdiri berjalan di hadapan sang gadis, sambil melihat-lihat kedai. Tetapi kerana mendapati tidak ada kedai yang buka kecuali kedaiku, gadis itu mendatangi kedaiku. Gadis itu menegurku, lalu duduk….

Tiba-tiba fajar pun menyingsing. Abu Nawas terdiam, lalu sang Raja berkata, “Ceritamu benar-benar aneh dan indah!” Abu Nawas menjawab, “Esok malam ceritanya lagi menarik dan lagi indah.”

Gadis yang Membeli Kain

Malam berikutnya, sang Raja memerintahkan kepada Abu Nawas untuk meneruskan kisah-kisah aneh dan ajaib, yang menjadi kegemaran sang Raja. Abu Nawas menjawab, “Dengan senang hati, wahai raja yang baik dan bahagia…”

Hamba mendengar, wahai Raja yang bahagia, pelayan itu menceritakan kepada raja Cina bahawa pemuda itu berkata:
Gadis itu duduk di kedaiku dan membuka tudung penutup wajahnya. Ketika aku melihatnya, jantungku berdetak keras.

Gadis itu bertanya, “Apakah engkau mempunyai kain?”

Aku menjawab, “Tuan puteri, hamba adalah orang miskin, tetapi tunggulah hingga para pedagang lain membuka kedai mereka, dan aku akan mengambilkan kain yang engkau inginkan.”

Kami duduk bercakap-cakap sebentar, dan aku mula merasakan hasrat yang sangat besar terhadapnya. Ketika para pedagang mula membuka kedai mereka, aku bangkit dan mengambil kain yang dipesan gadis itu, hingga mencapai harga lima ribu dirham. Gadis itu memberikan kain-kain yang dipesannya pada si pengawal dan terus menaiki keldai betinanya, lalu pergi tanpa memberitahukan di mana dia tinggal.

Kerana merasa terlalu segan untuk menyebut-nyebut tentang wang di hadapan seorang wanita yang begitu cantik, aku memberi jaminan pada para pedagang itu bahawa barang-barang mereka senilai lima ribu dirham akan segera kubayar. Lalu aku pulang, dalam keadaan mabuk cinta, dan selama seminggu tidak dapat makan atau pun tidur….

Tiba-tiba fajar pun menyingsing. Abu Nawas terdiam, lalu sang Raja berkata, “Ceritamu benar-benar aneh dan indah!” Abu Nawas menjawab, “Esok malam ceritanya lagi menarik dan lagi indah.”

Isi Hati Sang Gadis

Malam berikutnya, sang Raja memerintahkan kepada Abu Nawas untuk meneruskan kisah-kisah aneh dan ajaib, yang menjadi kegemaran sang Raja untuk mendengarkannya. Abu Nawas menjawab, “Dengan senang hati, wahai raja yang baik dan bahagia…”

Dikisahkan, wahai sang Raja, pelayan itu menceritakan kepada raja Cina bahawa pemuda itu berkata:
Seminggu kemudian para pedagang mendatangiku, meminta wang mereka, tetapi aku merayu mereka agar menunggu hingga seminggu lagi. Seminggu kemudian gadis itu datang selepas Subuh, menaiki keldai betina dan diiringi oleh pengawal dan dua orang hamba.

Dia memberi salam padaku dan setelah duduk di dalam kedai, berkata, “Aku terlambat membawakanmu wang untuk kain-kain itu. Panggillah seorang penukar wang dan terimalah wang ini.”

Aku memanggil seorang penukar wang, dan menukarkan wang untuk diberikan kepada para pedagang. Lalu dia dan aku duduk bercakap-cakap hingga kedai-kedai buka, dan pada saat itulah aku membayar hutangku pada setiap pedagang. Lalu gadis itu berkata padaku, “Tuan, ambilkan aku ini dan itu.”

Aku segera mengambilkan apa-apa yang diinginkannya dari para pedagang, lalu dia mengambilnya dan pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun mengenai pembayarannya. Aku mula menyesali apa yang telah kulakukan, sebab harga dari apa yang telah kubeli untuknya adalah seribu dinar, dan aku berkata kepada diri sendiri:
“Sungguh sukar! Dia memberiku lima ribu dirham tetapi telah mengambil barang seharga seribu dinar, sedangkan para pedagang itu berurusan denganku dalam soal pembayaran. Tidak ada kekuatan dan kekuasaan, kecuali di tangan Tuhan, Yang Maha Kuat, Yang Maha Kuasa. Wanita yang baru saja berurusan denganku ini pastilah seorang penipu, dan aku bahkan tidak meminta alamatnya.”

Dia pergi selama lebih dari sebulan, hingga para pedagang mula mendesakku untuk membayar wang mereka dan kerana sudah terlalu lama hingga aku sudah tidak lagi mengharapkan kedatangannya, aku mengumpulkan seluruh kekayaanku untuk kujual. Tetapi suatu hari, ketika aku sedang duduk dengan sedih dan kebingungan, gadis itu datang dan duduk di kedaiku sambil berkata, “Ambillah timbangan dan ambil wangmu.” Lalu dia memberikan padaku wang seribu dinar dan kami berbincang dengan bebas dan aku merasa terhibur lagi. Lalu dia bertanya padaku, “Apakah engkau mempunyai isteri?”

Aku menjawab sambil menangis, “Tidak, aku belum pernah menikah.”

Dia bertanya, “Mengapa engkau menangis?”

Aku menjawab, “Tidak apa-apa.” Lalu aku merayu pengawalnya agar menjadi perantaraku dengannya untuk menyatakan isi hatiku. Tetapi pengawal itu tertawa dan berkata, “Demi Tuhan, dia lebih mencintaimu daripada engkau mencintainya. Dia tidak memerlukan kain-kain yang dibelinya darimu, tetapi dia melakukan itu kerana terdorong oleh rasa cintanya padamu. Katakan sendiri kepadanya apa yang menjadi impianmu.”

Lalu aku mendekati pelayan gadis itu seraya berkata padanya, “Bermurah hatilah dan izinkan aku untuk mengatakan padamu apa yang ada di dalam benakku supaya engkau sampaikan kepada gadis itu.” Lalu aku mengatakan padanya apa yang menjadi hasrat di hatiku dan dia setuju untuk menyampaikannya pada gadis itu.

“Engkau harus menyampaikan pesanku padanya,” kataku sambil meneruskan, “Lakukan apa saja yang dia minta.”
Malam berlalu tetapi mataku tidak terpejam sedangkan hatiku terus memikirkan gadis itu. Beberapa hari kemudian si pengawal mendatangiku….

Tiba-tiba fajar pun menyingsing. Abu Nawas terdiam, lalu sang Raja berkata, “Ceritamu benar-benar aneh dan indah!” Abu Nawas menjawab, “Esok malam ceritanya lagi menarik dan lagi indah.”

Isteri Khalifah dan Kotak-kotak Ajaib

Malam berikutnya, sang Raja memerintahkan kepada Abu Nawas untuk meneruskan kisah-kisah aneh dan ajaib. Abu Nawas menjawab, “Dengan senang hati, wahai raja yang baik dan bahagia…”

Dikisahkan, wahai sang Raja, pelayan itu menceritakan kepada raja Cina bahawa pemuda itu berkata:
Ketika si pengawal itu datang, aku menyambutnya dengan mesra dan murah hati, dan ketika aku menyoalnya tentang majikannya, dia menjawab, “Dia sedang mabuk cinta kepadamu.”

Lalu aku bertanya padanya, “Siapakah sebenarnya gadis itu?”

Dia menjawab, “Dia salah seorang dayang yang bertugas melayani Zubaidah, isteri Khalifah, yang mengasuh dan membesarkannya. Demi Tuhan, dia mengatakan pada majikannya tentang dirimu dan memohon padanya agar mengahwinkannya denganmu, tetapi Zubaidah berkata, “Aku tidak akan mengahwinkannya denganmu hingga aku mengetahui apakah dia kacak atau tidak, dan apakah dia sesuai untukmu atau tidak.” Aku akan membawamu ke istana sekarang juga, dan jika engkau berjaya memasukinya tanpa terlihat oleh sesiapa pun, engkau boleh mengahwini gadis itu, tetapi jika ketahuan, engkau akan kehilangan kepalamu. Bagaimana?”

Aku menyahut, “Aku bersiap sedia untuk pergi bersamamu.”

Lalu dia berkata, “Apabila malam tiba, pergilah ke masjid yang dibina oleh Zubaidah di sungai Tigris.”

Aku menyahut, “Baiklah.” Lalu aku pergi ke masjid, melakukan solat Isyak dan tidur di sebelah luar masjid. Sebelum fajar menyingsing, datanglah beberapa orang pelayan dalam sebuah perahu, dengan kotak-kotak kosong, yang mereka simpan di dekat masjid dan kemudian mereka pergi. Tetapi salah seorang di antara mereka tinggal di belakang, dan ketika aku mengamatinya lebih teliti, aku mendapati bahawa dia adalah si pengawal yang telah mendatangiku sebelum ini.

Tidak berapa lama muncul pula gadis itu dan segera mendekatiku. Aku bangkit menyalaminya, dan dia duduk bercakap-cakap denganku, dengan air mata bercucuran. Lalu dia mengarahkan aku masuk ke dalam salah sebuah kotak dan menguncinya dari luar. Tak lama kemudian para pelayan tadi kembali lagi dengan segala macam benda yang terus dimasukkannya ke dalam kotak-kotak itu hingga mereka selesai mengisinya semua dan menguncinya. Lalu mereka meletakkan kotak-kotak itu di dalam perahu dan mulai mengharungi sungai menuju istana Zubaidah.

Aku segera menyesali apa yang telah kulakukan, sambil berkata kepada diriku sendiri, “Demi Tuhan, celakalah aku,” dan terus menangis dan memohon kepada Tuhan untuk membebaskanku hingga perahu itu tiba di pintu gerbang istana khalifah. Lalu para pelayan itu mengangkat kotak-kotak tersebut, termasuk kotak di mana aku berada di dalamnya. Mereka membawanya melalui tepi sungai di mana para pengawal bertugas menjaga perahu hingga mereka sampai pada seorang pengawal yang nampaknya adalah pemimpin mereka. Ketua pengawal itu bangkit dari duduknya….

Tetapi fajar menyingsing. Abu Nawas terdiam, lalu sang Raja berkata, “Ceritamu benar-benar aneh dan indah!” Abu Nawas menjawab, “Esok malam ceritanya lagi menarik dan lagi indah.”

Khalifah dan Kotak Ajaib

Malam berikutnya, sang Raja memerintahkan kepada Abu Nawas agar meneruskan kisah-kisah aneh dan ajaib, yang menjadi kegemaran sang Raja. Abu Nawas menjawab, “Dengan senang hati, wahai raja yang baik dan bahagia…”

Hamba mendengar, wahai Raja yang bahagia, pelayan itu menceritakan kepada raja Cina bahawa pemuda itu berkata:
Ketua pengawal itu tersentak bangun dari tidurnya dan berseru kepada gadis itu, “Jangan menunda-nunda. Engkau harus membuka kotak-kotak ini.”

Kebetulan kotak pertama yang akan dibukanya adalah kotak di mana aku berada di dalamnya, dan ketika para pelayan membawanya kepada ketua pengawal itu, aku kehilangan akalku dan dalam kebingungan itu aku terkencing di dalam kotak dan airnya mengalir keluar kotak. Lalu gadis itu berkata, “Wahai pengawal, engkau telah merugikan aku dan merugikan ramai pedagang dengan merosak barang-barang milik Puan Zubaidah sebab kotak ini mengandungi baju-baju berwarna-warni dan satu kendi air zamzam. Kendi itu baru saja tumpah dan airnya akan membuat warna-warni baju itu luntur.”

Ketua pengawal itu berkata, “Ambillah kotak itu dan pergi.” Tetapi baru saja para pelayan itu mahu mengangkatku dan bergegas menyingkirkan semua kotak lainnya, aku mendengar sebuah suara berseru, “Aduh, aduh, khalifah, khalifah!” Ketika aku mendengar suara ini, jantungku seakan berhenti berdenyut. Lalu aku mendengar khalifah menyoal gadis itu, “Hai kamu, ada apa di dalam kotak-kotak milikmu ini?”

Gadis itu menyahut, “Baju-baju untuk Puan Zubaidah.”

Khalifah berkata, “Buka semua biar aku dapat melihatnya.”

Mendengar itu, aku tahu bahawa kali ini tamatlah riwayatku. Lalu aku mendengar gadis itu berkata, “Wahai Pemimpin Kaum Beriman, kotak-kotak ini mengandungi baju-baju dan barang-barang milik Puan Zubaidah, dan dia tidak ingin isinya dilihat oleh sesiapa pun.”

Tetapi khalifah berkata, “Engkau harus membuka kotak-kotak ini, agar aku dapat melihat benda apa di dalamnya. Bawa semua ke sini.”

Ketika aku mendengar arahan khalifah itu, aku yakin bahawa aku akan mati. Lalu para pelayan membawa kotak-kotak itu, membukanya satu demi satu, sementara khalifah terus memperhatikan baju-baju dan barang-barang kemas lainnya hingga tinggal satu kotak lagi yang belum dibuka, di mana aku bersembunyi. Mereka membawaku dan meletakkanku di hadapannya, dan aku mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan, kerana merasa pasti bahawa aku akan kehilangan kepalaku dan akan mati. Khalifah berkata, “Buka kotak itu agar aku dapat melihat benda apa di dalamnya.” Maka para pelayan segera membukanya….

Tetapi fajar menyingsing. Abu Nawas terdiam, lalu sang Raja berkata, “Ceritamu benar-benar aneh dan menarik!” Abu Nawas menjawab, “Esok malam ceritanya lagi menarik dan lagi aneh.”

Rahsia Kotak-kotak Ajaib

Malam berikutnya,sang Raja memerintahkan kepada Abu Nawas agar meneruskan kisah-kisah aneh dan ajaib, yang menjadi kegemaran sang Raja. Abu Nawas menjawab, “Dengan senang hati, wahai raja yang baik dan bahagia…”

Hamba mendengar, wahai sang Raja, pelayan itu menceritakan kepada raja Cina bahawa pemuda itu berkata:
Khalifah berkata kepada para pelayan, “Buka kotak ini, agar aku dapat melihat apa yang ada di dalamnya.”

Tetapi gadis itu berkata, “Wahai tuanku, bukalah kotak ini di hadapan Puan Zubaidah, sebab apa yang ada di dalamnya merupakan rahsianya, dan dia lebih mengistimewakan kotak yang satu ini berbanding semua kotak lainnya.”

Ketika khalifah mendengar penjelasannya, dia memerintahkan para pelayan untuk mengangkat kotak tersebut ke dalam, dan dua orang pelayan segera mengangkat kotak tempatku bersembunyi, sementara aku hampir tidak percaya bahawa aku masih hidup. Setelah kotak berada di dalam sebuah ruangan di mana pengawal yang kukenali sebelum ini berada di ruangan itu, dia segera memerintahkan aku agar segera keluar dari kotak.

Sambil membuka penutup kotak, dia berkata, “Keluarlah cepat dan naikilah tangga ini.” Aku berdiri dan keluar dari kotak, dan baru saja dia menutup kotak itu kembali dan aku menaiki tangga, para pelayan itu masuk membawa kotak-kotak lainnya, diikuti oleh khalifah. Lalu mereka membuka semuanya di hadapannya, sementara dia duduk di atas kotak tempatku bersembunyi sebelumnya. Lalu dia bangkit dan masuk ke dalam ruangan.

Sepanjang tempoh itu aku duduk dengan mulut kering kerana ketakutan. Tak lama kemudian gadis idamanku naik ke atas dan berkata padaku, “Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Bergembiralah dan tunggu hingga Puan Zubaidah datang melihatmu, dan engkau mungkin akan memperolehi nasib baik dan mendapatkan diriku.”

Aku turun ke bawah, dan begitu aku duduk di sebuah ruangan kecil, masuklah sepuluh orang pelayan perempuan, semua bagaikan rembulan, dan berdiri dalam dua barisan, dan mereka diikuti oleh dua puluh orang perawan berdada tinggi, berjalan bersama Puan Zubaidah, yang hampir tidak dapat berjalan kerana berat membawa pakaian dan perhiasannya.

Ketika dia mendekatiku, para pelayan itu berpencar dan membawakannya sebuah kerusi, yang kemudian didudukinya. Lalu dia berseru kepada gadis-gadis itu, yang akhirnya berseru memanggilku, dan aku maju dan mencium tanah di hadapannya. Dia menyuruhku duduk, dan aku duduk di hadapannya, sementara dia bercakap-cakap denganku dan aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya mengenai keadaanku.

Dia merasa senang denganku dan akhirnya berkata, “Demi Tuhan, tidak sia-sia aku membesarkan gadis ini. Dia seperti anakku sendiri, suatu amanah yang diberikan Tuhan kepadamu.” Lalu dia menyuruhku tinggal selama sepuluh hari di istana….

Tetapi fajar menyingsing. Abu Nawas terdiam, lalu sang Raja berkata, “Ceritamu benar-benar aneh dan menarik!” Abu Nawas menjawab, “Esok malam ceritanya lagi menarik dan lagi aneh.”

KESEHATAN

TANAMAN OBAT

Daftar Tanaman Obat Indonesia

Data tervalidasi oleh Tim CoData Indonesia pada tahun 2000

A
Adas
Adem Ati
Ajeran
Akar Manis
Akar Wangi
Alang Alang
Alpokat
Andong
Angsana
Anting-anting
Anyang Anyang
Apel
Aren
Asam Jawa
Awar Awar

B
Bandotan
Bangle
Baru Cina
Bawang Merah
Bawang Putih
Bayam
Bayam Duri
Belimbing Asam
Belimbing Manis
Belimbing wuluh
Beluntas
Benalu
Beringin
Bidara Laut
Bidara Upas
Biduri
Bligu
Blustru
Boroco
Brojo Lintang
Brokoli
Brotowali
Buah Makasar
Buah Nona
Buncis
Bunga Kenop
Bunga Matahari
Bunga Pagoda
Bunga Pukul Delapan
Bunga Tasbih
Bungli
Bungur
Bungur Kecil
Buni

C
Cabai Merah
Cabai Rawit
Cabe Jawa
Cakar Ayam
Calingcing
Ceguk
Cempaka Kuning
Cempaka Putih
Cendana
Cengkeh
Ceremai
Cincau
Ciplukan

D
Dadap Ayam
Dadap Serep
Dandang Gendis
Daruju
Daun Dewa

Daun duduk
Daun Encok
Daun Jintan
Daun Kentut
Daun Madu
Daun Sendok
Daun Senna
Daun Ungu
Delima

E
Ekor Kucing
Enau

G
Gadung
Gambir
Gandarusa
Gendola
Genje
Ginjean
Greges Otot
Gude

H
Halia

I
Iler
Inggu

J
Jagung
Jahe
Jamblang
Jambu Biji
Jambu Monyet
Jamur Kayu
Jarak
Jarak Bali
Jarak Ulung
Jarong
Jati Belanda
Jayanti
Jengger Ayam
Jeruk Nipis
Jeruk Purut
Jintan Putih
Jintan/Ajeran
Johar
Jombang
Jung Rabab

K
Kacapiring
Kaki Kuda
Kaktus Pakis Giwang
Kamboja
Kapas
Kapasan
Kapulaga
Kastuba
Katu
Kayu Manis (padang)
Kayu Putih
Kecubung
Kecubung Gunung
Kedelai
Keji Beling
Kelapa
Kelingkit Taiwan
Kelor
Kembang Bokor
Kembang Bugang
Kembang Coklat

Kembang Kertas
Kembang Pukul Empat
Kembang Sepatu Sungsang
Kembang Sore
Kembang Sungsang
Kemuning
Kenanga
Kencur
Ketepeng Cina
Ketepeng Kecil
Ketimun
Ki Tolod
Klabet
Kol Banda
Kompri
Kubis
Kubis Bunga
Kucing Kucingan
Kumis Kucing
Kunci Pepet
Kunyit
Kwalot

L
Lada
Landep
Landik
Legundi
Lempuyang Gajah
Lempuyang Wangi
Lengkuas
Lenglengan
Lidah Buaya
Lidah Ular
Lobak

M
Mahkota Dewa
Mahoni
Mamang Besar
Manggis
Mangkokan
Melati
Mengkudu
Meniran
Mimba
Mindi Kecil
Mondokaki
Murbei

N
Nampu
Nanas
Nanas Kerang
Ngokilo
Nona Makan Sirih

P
Pacar Air
Pacar Cina
Padi
Pala
Pandan Wangi
Pare
Patah Tulang
Patikan Cina
Patikan Kerbau
Pecut Kuda
Pecut Kuda
Pegagan
Pepaya
Permot
Petai Cina
Pinang
Pisang

Pohon Merah
Portulaka
Poslen
Prasman
Pulai
Pule Pandak
Pulutan
Putri Malu

R
Rambutan
Rincik Bumi
Rumput Mutiara

S
Saga
Salam
Salvia
Sambang Darah
Sambang Getih
Sambiloto
Sambung Nyawa
Sangitan
Sangketan
Sawi Langit
Sawi Tanah
Secang
Seledri
Semanggi Gunung
Semangka
Sembung
Senggani
Sengugu
Sereh
Sesuru
Siantan
Sidaguri
Sirih
Sirsak
Sisik Naga
Som Jawa
Sosor Bebek
Srigading
Srikaya

T
Tahi Kotok
Tanduk Rusa
Tapak Dara
Tapak Kuda
Tapak Liman
Tasbeh
Tebu
Teh
Tembelekan
Tempuyung
Temu Hitam
Temu Kunci
Temu Putih
Temu Putri
Temulawak
Teratai
Teratai Kerdil
Tomat
Tunjung
Turi

U
Ubi Kayu
Urang-Aring

W
Waru
Wijaya kusuma
Wortel

TANAMAN OBAT – ADAS

TANAMAN OBAT

ARTI SEBUAH PERSAHABATAN

SAHABAT

Kawan ……….
Tentunya kita semua pasti sudah mempunyai tali Persahabatan, bukan ?
Tapi satu hal yang kini menjadi pertanyaan, apa sih Arti dari Persahabatan itu sendiri ?
Bagi Tia ………
Persahabatan itu dimulai dari perasaan
Kemudian beralih pada kepercayaan

Apakah penilaian pun perlu di lakukan ?
Tentu saja karena kita tidak akan segampang itu menerima seseorang menjadi seorang Sahabat.

Kawan ……..
Persahabatan terjalin karena perasaan kita sudah menyatu dengan orang yang sudah dianggapnya mempunyai kesamaan, sedangkan perbedaan dijadikan sebagai bukti bahwa diantara Persahabatan akan selalu terdapat ketidaksamaan.

Kawan ………
Mungkinkah Persahabatan itu akan terus terjalin selamanya ?
Tentu saja Persahabatan itu akan terus terjalin jika Persahabatan itu sendiri di bina sebaik-baiknya ……. tapi yang dipertanyakan adalah sanggupkah kita betul-batul melaksanakannya jika suatu waktu perasaan kita terluka dan kepercayaan pun ternodai akan Persahabatan itu sendiri ?

Kawan ………
Persahabatan yang sejati akan selalu terjalin walau apa pun yang terjadi
Jika perasaan dan kepercayaan sudah ternodai ………. tetap saja Persahabatan akan tetap ada karena dilubuk hati yang paling dalam telah tertanam perasaan kasih sayang yang takkan mungkin bisa terhapuskan begitu saja, kepedihan memang akan selalu dirasakan tapi kasih sayang yang telah terbina akan selalu menguatkan perasaan kita dan Persahabatan itu sendiri akan tetap terjalin sampai akhir hidup kita.

Kawan …….
Selamat merenungi makna dari Arti Sebuah Persahabatan.
Dan ungkapkanlah isi hati yang ada mengenai Persahabatan itu sendiri.