Pacaran pada remaja ini sudah menjadi trend mark tersendiri. Seorang pacar bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan remaja. Menjomblo istilah yang mereka pakai bagi yang tidak punya pacar merupakan hal yang memalukan. Tajut dikira kurang jantan, kuper (kurang pergaulan), tidak laku, sok alim dan sebagainya, karena belum ada gandengan disampingnya. Sehingga sebagian remaja menjadi jomblo sebagai masalah terseniri. Keadaan yang demikian menjadikan mereka cepat-cepat mencari pacar, jika telah putus, maka akan cepat-cepat mencari penggatinya. Gonta ganti pacar seolah-olah hal yang keren dan reputasi tersendiri bagi remaja gaul.

Dalam berpacaran, pertemuan rutin bagi mereka adalah hal yang vital. Mereka bertemu untuk menampakkan segala hasrat dengan berbagai bumbu tersendiri(tertentu) seperti berpegangan tangan, saling andang berpandangan, ciuman dan berpelukan bahkan hingga hubungan seksual, maka hal seperti ini bukan ag disebut pacaran dalam arti asal, melainkan upaya penanaman mental free seks. Ini lebih jelas lebih terlarang.

Mengapa dikatakan upaya penanaman free seks ? Karena cara-cara seperti ini telah menjurus pelampiasan nafsu seks diluar nikah. Sedangkan pernikahan itu sendiri belum tentu terjadi dengan orang yang pernah mencintainya atau yang pernah memacarinya. Bahkan justru kebanyakan mereka yang berpacarandengan gaya seperti itu, ternyata tidak jadi nikah dan cintanya putus ditengah jalan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berkata : Nabi SAW bersabda : Allah SWT telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, diman dia akan melakukan zina mata, dalam bentuk pandangan, zina mulut dan perasaan.

Pacaran dengan gaya seperti itu bisa juga diartikan sebagai upaya pengikisan nilai cinta. Dua sejoli yang terlalu sering dan dalam setiap pertemuan terlalu sering dan terlalu lama berduaan, lambat laun rasa cintanya akan kendor. Jika tidak segera melansungkan pernikahan akan ada perasaan bosan sebagai cerminan rasa cintanya mulai kritis/tipis, berarti ia mulai tidak mencintai gadis itu. Dalam keadaan seperti itu dilansungkan pernikahan, maka biasanya pernikahannya tidak lama (bercerai) atau sekalipun langgen, namun selalu disertai berbagai cermin kebosanan kepada pasangannya.

Semakin lama pacaran akan semakin banyak masalah yang dihadapi, sebaliknya semakin cepat seorang menikah (tampa ada pacaran) maka akan selamatlah dia. Menyelesaikan berbagai perbedaan dalam pernikahan (rumah tangga) bernilai ibadah dan insya Allah mendapat penyelesaian yang saling menguntungkan dan terhormat.

Terlebih lagi islam sama sekali tidak mengenal pacaran. Islam hanya mengajarkan Khitbah dan setelah pernkahan. Khitbah adalah upaya memperkenalkan kurang jenis agar saling cocok disaksikan keluarganya atau muhrimnya. Dalam khitbah ini diperbolehkan melihat aurat pasangannya adalah terlarang (haram). Setelah khitbah dan keduanya ada kecocokan dalam arti siwanita menerima khitbah sipria. Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama diharuskan segera menikah.

Karena nafsu remaja cenderung sekali pada hal-hal yang berbau hura-hara seperti pacaran, jalan bareng, kumpul-kumpul dan sebagainya. Apabila mereka diajak kejalan yang benar, kadang diantara mereka ada yang memberontak. Apalagi salah satu hobby mereka adalah gonta ganti pacar.

Maka jika nafsu mereka untuk berdekatan dengan lawan jenis tak terbendung lagi, maka menikah adalah solusinya agar mereka terhindar dari dosa.